Toyota Jidoka dan Continuous Integration


“Quality is never an accident, it is always the result of intelligent effort.” – John Rushkin

Sekarang ini saya sedang menjalani mata kuliah Operations Management. Salah satu hal yang paling menarik disini adalah rahasia di balik kesuksesan Toyota dalam hal produksinya. Toyota mempunyai apa yang disebut Toyota Production Systems. Ada dua hal yg penting dalam TPS, yaitu JIT (Just-In-Time) dan Jidoka. Just-in-time intinya adalah memproduksi barang berdasarkan apa yang diinginkan, pada saat yang diinginkan, dan dalam jumlah yang diinginkan juga (kata kuncinya adalah NEEDS). Sedangkan Jidoka adalah proses produksi barang yang diselaraskan dengan tingkat kualitas (kata kuncinya BUILT-IN-QUALITY). Jidoka memungkinkan keadaaan dimana setiap ada masalah (mesin rusak atau keterlambatan atau defect pada produk) dalam manufacturing, maka mesin akan berhenti dan memberikan alert kepada team leader atau supervisor. Berikut ilustrasinya,
jidoka

Jidoka ini didukung dengan sebuah alat untuk memvisualisasikan permasalahan yang ada pada pos2 tertentu dalam manufacturing yaitu Andon. Lihat gambar di bawah,

andon

Angka2 di atas menunjukkan pos2 dalam manufacturing, ada 3 warna dalam dalam angka2 tersebut. Merah menunjukkan bahwa ada masalah di pos tsb kemudian supervisor atau team lead akan mendatangi pos tersebut untuk membantu menyelesaikan permasalahannya.

Ternyata apa yang dipraktekan di Toyota tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di dalam software development, terutama di project2 open source. Di dalam software development hal ini dikenal dengan nama Continuous Integration. Continuous integration adalah praktek dalam software development dimana team member diwajibkan untuk sesering mungkin mengintegrasikan kerjaannya dengan developer yang lain. Biasanya ritmenya per hari atau sering disebut daily build. Setiap proses integrasi tsb akan dilakukan pengujian secara otomatis untuk mendapatkan defect atau problem secepat mungkin dan selanjutnya diperbaiki. Bedanya dengan Jidoka yang menghentikan proses produksi untuk sementara, dalam continuous integration kita bisa lakukan paralel dengan kegiatan2 lainnya.

Berikut adalah ilustrasi mengenai Continuous Integration (diambil dari IBM.com).

  • Developer check-in/memasukkan codenya ke dalam Software Configuration Management (SCM) atau dikenal juga dengan nama Version Control
  • Integration Build Server akan memonitor perubahan2 pada SCM (setiap kali developer melakukan [1] )
  • Eksekusi build yang biasanya terdiri dari berbagai jenis testing, unit testing, coverage testing, dan integration testing
  • Kirimkan hasil build ke team member project
  • Deploy aplikasi yang sukses di build ke development application yang selanjutnya bisa digunakan untuk melakukan functional testing oleh tester.
Continuous Integration

Continuous Integration

Pentingnya hasil build membuat beberapa developer yang ekstrim mengintegrasikannya dengan orb, lavalamp, dan traffic lamp. Sama seperti Andon di Toyota yang mempunyai tiga warna, continious juga mempunyai tiga warna sebagai indikator hasil build. Berikut adalah hasil karya mereka,

  • Integrasi dengan Lavalamp
    lava-lamp
  • Integrasi dengan traffic lamp
    traffic-light

Sekarang pertanyaanya kenapa defect harus ditemukan secepatnya? apa bedanya kalau defect ditemukan pada saat internal testing atau user accepatance testing lalu kemudian diperbaiki? bukannya kalau benerin defect pada saat production malah membuat waktu production semakin lama? gimana korelasi antara ini cost dengan quality?

Alasan yang pertama adalah kesan dari user. Kesan dari user pasti berbeda jika mereka menemukan 1000 defect  daripada 100 defect. Itulah kenapa biasanya kita punya 2 fase testing, testing internal baru kemudian testing oleh user. Yang kedua adalah effort, defect yang ditemukan di akhir fase akan sangat lama untuk diselesaikan. Jika codebase dari aplikasi yang dibuat sudah besar, menemukan penyebab masalah sudah menjadi masalah tersendiri, belum lagi bagaimana solvenya, kalaupun sudah solve apakah sudah yakin tidak akan myebabkan defect di tempat lain?. Beda skenarionya jika defect ditemukan sedini mungkin, effort untuk menemukan penyebab permasalahan berkurang dan defect bisa langsung diperbaiki. Dan jika ternyata menimbulkan defect di tempat lain, developer akan dapat alertnya sedini mungkin dan langsung memperbaiknya.

Apakah meningkatkan kualitas berarti meningkatkan cost? Sepintas kita menjawab, YA. Tapi jika ditelusuri lebih mendalam, dengan kualitas yang tinggi maka akan mengurangi jumlah defect yang ada, dengan minimnya defect effort/cost untuk rework pun bisa diminimalisir. Sehingga dengan pendekatan spt itu Toyota bisa memproduksi mobil dengan kualitas tinggi dengan harga terjangkau, Itulah konsep yang diusung Toyota yaitu Better Car at Better Price for More People.

Demikian sekilas info kemiripan antara Jidoka Toyota dengan Continuous Integration. Untuk lebih teknisnya mengenai Continuous Integration bisa mengunjungi:

  • http://endy.artivisi.com/blog/manajemen/continuous-integration/
  • http://endy.artivisi.com/blog/java/hudson/
  • http://endy.artivisi.com/blog/java/luntbuild/
  • http://endy.artivisi.com/blog/java/cruise-control/

Mudah2an bermanfaat.

12 comments

  1. mirip ya? apa dimirip2in… kaya hudson, kl di toyota bener2 diterapkan ga ya.. sebegitu strict kah? atau cuman teori doang? tapi secara diterapkan paling masih yg di toyota jepang ga di toyota cabangnya sini, kewekw… byuhh tapi itu kl di toyota langsung diterapkan bikin mobil gt ya… weww… btw kl mercedes pake apa ya namanya…

    1. @imam
      Yap secara konsep (tujuan) memang sama. Dan konsep ini pasti diterapkan di seluruh pabrik Toyota, namanya juga perusahaan yang mengedepankan Quality. Kalau ga gimana mereka bisa bersaing mengalahkan industri otomatis AS, Ford, GM, dan Chrysler? sekarang malah mereka lagi mengemis dana ke kongres AS, dan ditolak.

  2. Bner2 nyambung ama ilmu yg gw dapet dari training di Kantor,, (ya iyalah… trainernya yg nulis ini, hehehe..)

    Boleh tanya kan,,

    “Apakah meningkatkan kualitas berarti meningkatkan cost? Sepintas kita menjawab, YA. Tapi jika ditelusuri lebih mendalam, dengan kualitas yang tinggi maka akan mengurangi jumlah defect yang ada,”

    Di penggalan paragraf itu membahas “kualitas” yg mengurangi defect sehingga mengurangi effort sehingga mengurangi cost. “Kualitas” yg dimaksud disitu kualitas produk atau kualitas prosesnya ya?

    Yg gw tangkep dari paragraf2 seblumnya, yg bikin cost bisa ditekan oleh toyota adalah karena proses nya yg menyebabkan defect lebih sedikit ditemukan shingga effort yg dibutuhkan untuk rework lebih sedikit (produce product), sehingga biayanya produksinya bisa lebih kecil.

  3. Watashi wa Toruko no Ömer desu. Toyotashi ni aru Takaoka Kojo’de 1 nen gurai Hatarakimashita. Toyota Production System nitsuite Benkyo Shimashita. Toruko ni aru Adapazarı Toyota Plant de 5 nen gurai Groupe Leader pozition de hatarakimashita. Toyota yoni system wa ichiban ii system desu. İma watashi wa Toruko de Lean İnstute de Lean Production system nitsuite benkyo ga agemasu. Very Happy.. Nan de ? Because ichiban ii system wa Toyota Production System. Da Kara Shinu Made kono system nitsuite gambarimasu.. Minasan ni Yoroshiku Onagai Shimasu !!

  4. Pingback: my blog

Leave a Reply