gift box + remote + set-to-box

Sebagai warga Jakarta, kemacetan sudah menjadi hal yang umum. Perjalanan dari rumah ke kantor ditempuh dalam waktu lebih dari satu jam sudah biasa dijalankan sebagian besar yang kerja di Jakarta. Radio, social media seperti facebook, twitter, atau video streaming youtube, vidio sudah menjadi teman setia untuk menghabiskan waktu di jalan dengan gratis. Selain itu ada juga layanan berbayar seperti Netflix atau layanan tambahan on the go yang disediakan Pay TV seperti FirstMedia atau Indovision. Layanan video streaming membutuhkan kuota internet yang tidak sedikit apalagi bila macet yang berjam-jam, tontonan juga sering terputus atau buffer ketika koneksi internetnya tidak stabil.

Kini, warga Jakarta dan sekitarnya punya alternatif hiburan baru untuk menikmati beragam tayangan eksklusif dengan kualitas gambar yang jernih, tayangan yang stabil tidak putus-putus dan tidak perlu khawatir kehabisan kuota internet yaitu, NexDrive dari Nexmedia. Teknologi yang digunakan adalah DVB T2 dengan signal digital, teknologi yang juga digunakan oleh Nexmedia yang selama ini dikenal dengan kelebihannya bisa di pindah kemana aja dan pemasangannya yang mudah hanya dengan antena biasa.

Berbeda dengan Nexmedia, Nexdrive membutuhkan STB (Set Top Box) dan antena khusus yang bisa menerima sinyal digital ketika kendaraan bergerak dan menampilkannya ke layar monitor mobil. Dengan teknologi terrestrial ini, tidak ada pengaruh apabila banyak mobil lain yang menggunakan Nexdrive atau dalam keadaan cuaca yang tidak baik. Bahkan pihak Nexdrive mengatakan kualitas gambarnya akan tetap jernih dan stabil selama perjalanan sampai kecepatan 120 km per jam. Di atas kertas Nexdrive ini mempunyai kualitas gambar 1080i dengan resolusi bisa sampai 42″ dan compression MPEG4.

Kebetulan saya sudah mencoba duluan layanan Nexdrive ini selama sebulan. Apakah Nexdrive mampu memberikan hiburan baru buat kita warga Jakarta? Apakah layanannya benar-benar stabil di berbagai kondisi cuaca? Channel apa saja yang disediakan? Dan apakah perlu berlangganan layanan baru dari Nexmedia ini? berikut adalah review saya selama beberapa minggu menggunakan NexDrive.

Continue reading

IMG_8579-1-1

Virtual reality (VR) adalah teknologi dimana kita seolah-olah bisa berinteraksi langsung di lingkungan virtual atau maya. Kini teknologi virtual reality makin dekat dan terjangkau oleh kita semua.  Ada banyak jenis solusi VR yang bisa dinikmati oleh konsumen, ada Oculus Rift atau HTC Vive yang mampu menampilkan suasana dunia virtual dengan grafik yang sangat baik dan detil, namun untuk menggunakannya harus terhubung dengan PC dan harganya yang masih tergolong mahal. Ada juga solusi VR yang lebih sederhana dan murah, hanya dengan smartphone dan Google Cardboard yang berbahan kardus, namun kekurangannya tidak responsif karena tergantung dengan sensor smartphone dan banyak pengguna merasakan pusing jika digunakan dalam waktu lama.

Samsung Gear VR hadir dengan memberikan solusi mobilitas dan kenyamanan. Gear VR dapat digunakan hanya dengan menggunakan smartphone (hanya merk Samsung tertentu) dan dilengkapi dengan sensor gyro, accelerometer, dan proximity khusus supaya lebih responsif dan tidak terlalu terasa pusing setelah menggunakannya. Gear VR juga memiliki touchpad untuk membantu navigasi ketika berada di dunia VR. Untuk urusan suara,  saya sarankan menggunakan earphone karena bisa langsung disambungkan ke smartphone, ada juga tombol pengaturan volume suara khusus di Gear VR. Gear VR juga dilengkapi port microusb untuk charge smartphone sambil menggunakan VR. Setelah mencoba hampir satu bulan, saya sangat terkesan dengan kemampuan Gear VR dan cukup sering menggunakannya. Hal seru apa saja yang bisa dilakukan dengan Gear VR?Continue reading

20160221173204

Samsung Galaxy Note 5 sudah rilis sejak Agustus lalu. Setelah lima bulan sejak rilis, menurut saya Note 5 masih layak mendapat predikat phablet terbaik atau bahkan bisa dibilang smartphone terbaik bagi yang menyukai layar lebih dari 5.5 inch (setidaknya sampai Samsung S7 atau LG G5 keluar di bulan ini). Lalu apa aja alasan yang membuat smartphone ini layak dimiliki?

1. Layar besar dengan dimensi body yang compact

Awalnya saya tidak begitu tertarik menggunakan smartphone layar di atas 5 inch karena biasanya ukuran bodinya besar, bobotnya berat, sehingga tidak nyaman digunakan sehari-hari. Berbeda dengan Note 5, dimensinya bisa dibilang compact untuk ukuran layar 5.7 inch, bobotnya  cukup ringan 171 gram dan bodinya juga tidak terlalu lebar 76mm. Screen to body ratio sekitar 75%, salah satu yang terbaik di kelasnya.  Ditambah lagi Note 5 menggunakan tombol navigasi di bawah layar bukan on screen, membuat layar 5.7 inch menjadi tetap maksimal. Tidak butuh waktu lama buat saya menjadi terbiasa dan merasa nyaman menggunakan Note 5 untuk browsing atau social media dengan satu tangan selama 30 menit atau lebih. Sedikit tips, supaya lebih nyaman navigasi di Note 5 dengan satu tangan, bisa menggunakan aplikasi Pie Control yang membuat akses langsung ke beberapa aplikasi jadi mudah dan cepat.

20160221180237

2. Kameranya bagus banget!

Tidak heran kalau Note 5 mendapat score benchmark kamera terbaik di DxOMark, http://www.dxomark.com/Mobiles/Column-right/Mobile-Scores karena memang kualitas kameranya jernih dan tajam sekali dengan kamera belakang 16MP. Shutternya juga cepat. Kualitas kamera depan dengan 5MP juga sangat baik, fitur beautify membuat foto kita terlihat lebih “Ganteng” atau “Cantik” 🙂 Dibandingkan kualitas photo iPhone 6, menurut saya Note 5 masih lebih baik terutama dalam kondisi lowlight. Yang paling saya suka dari kamera Note 5 adalah shortcut untuk membuka kamera hanya dengan menekan tombol home dua kali. Shortcut ini juga bisa diakses ketika layar mati atau hidup, membuat momen penting jadi tidak terlewati untuk diabadikan.Continue reading

IMG_0180 2

Sudah cukup lama saya mengikuti perkembangan wearable gadget, khususnya kategori jam mulai dari Apple iPod Nano Gen 5 (yang bisa jadi jam dengan aksesoris tambahan), Pebble Steel, Pebble Time, Android Wear, dan yang terakhir adalah Apple Watch. Ketika market smartwatch sudah diisi dengan banyak jenis Android Wear, Pebble, dan Sport Watch dengan berbagai keunggulannya, Apple menurut saya masuk ke market ini dengan memberikan inovasi baru, terutama dalam urusan navigasi menu dan content melalui fitur Digital Crown dan Force Touch. Kenapa penting? karena user harus berinteraksi dengan layar smartwatch yang kecil. Samsung mencoba menyelesaikan masalah ini dengan membuat layar yang besar, kekurangannya ukuran jam jadi sangat besar dan mudah menempel bekas sidik jari karena disentuh terus. Pebble menggunakan metode konvensional berupa tombol fisik di sebelah kanan, solusi yang sederhana tapi smart, layar jadi tidak mudah kotor, pengguna juga leluasa melihat layar karena tidak ketutupan jari.

Apple Watch menggunakan digital crown untuk navigasi content, fungsinya mirip seperti scroll mouse, jadi ketika ada notifikasi email, pengguna cukup scroll dengan wheel untuk baca seluruh konten. Selain itu ada juga force touch, ketika layar disentuh lebih keras, Apple Watch akan menampilkan menu-menu lain untuk berinteraksi. Hal ini membuat navigasi juga lebih cepat, misalnya untuk ganti tampilan jam atau watchfaces, tidak perlu masuk ke menu tertentu, cukup tekan layar dengan lebih keras (dari sekedar tap biasa), maka pilihan watchface akan muncul. Salut banget dengan design decision yang dipilih Apple.

Continue reading

Screen Shot 2015-07-12 at 10.00.52

Solusi pemantau ruangan menggunakan CCTV kamera sebenarnya hal yang udah biasa, tapi biasanya cukup mahal karena harus beli 1 set lengkap dengan DVR dan beberapa kamera, belum lagi cara pasangnya yang ribet. Padahal saya membutuhkan  yang lebih simple, kamera yang bisa dipasang di ruangan keluarga dan kamar anak tanpa ribet kabel dan videonya bisa diakses kapan saja dari luar rumah. Jadi saya bisa lebih tenang kalau sedang di luar rumah dan meninggalkan anak dengan asisten rumah tangga karena bisa memantau kapan saja. Setelah mencari beberapa produk yang sesuai kebutuhan, akhirnya saya mencoba Cloud Camera TP-Link NC 200. Harganya juga bisa dibilang paling ekonomis dibandingkan dengan kamera lain sejenis.

Pemasangan dan Instalasi Kamera

Saya suka desainnya yang compact dan engselnya yang fleksible jadi bisa diputar-putar menyesuaikan kondisi ruangan misalnya di sudut ruangan, di atas meja, atau dipasang di dinding. Instalasi kamera bisa dibilang sangat mudah, ada dua cara, jika routernya support WPS maka caranya cukup tekan tombol WPS di router dan kamera akan langsung terhubung. Cara lainnya adalah dengan menyambungkan kamera dengan router menggunakan kabel network. Setelah itu download aplikasi android/ios dan tinggal ikuti langkah-langkahnya. Tidak lebih dari 10 menit kamera sudah bisa dilihat dari aplikasi dan kabel networknya bisa dilepas supaya wireless, jadi ketika pemasangan yang dicolok ke kamera cukup kabel powernya saja.

20150711212608 unboxing  Screenshot_2015-07-11-11-26-15

Continue reading

 

Kemaren malam saya dan beberapa teman komunitas diundang di acara Exclusive Workshop Samsung Galaxy Note 4. Konsep workshop-nya sangat menarik, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing diberikan 2 buah unit dan mendapat tugas di beberapa pos untuk memaksimalkan fitur-fitur dari Note 4. Jadi hampir semua peserta bisa mencoba seluruh fitur utama yang dijelaskan di awal acara.

Setelah oprek-oprek selama dua jam bersama teman-teman komunitas berikut kesan pertama review dari Samsung Galaxy Note 4,

Desain, premium dengan metal frame

Dimensi 153.5 X 78.6 X 8.5 mm / 176g. Metal frame. Removable leather backcase

Sebagai pengguna Samsung Galaxy S4, saya sudah merasa cukup jenuh dengan style desain samsung yang mirip dan bahan plastik. Tapi setelah pegang Note 4, kesan plastik langsung hilang. Frame metal dan body yang tipis membuat feel jadi jauh lebih premium dan mewah, ditambah lagi backcase berbahan kulit juga membuat Note 4 nyaman dipegang dan tidak mudah slip. Backcase ini nantinya juga bisa diganti dengan aksesoris Flip Cover seperti seri Samsung Galaxy lainnya.

Layar, terang dan tajam dengan resolusi Quad HD

5.7″ Quad HD Super AMOLED (2560 x1440), 515 ppi

Menurut beberapa orang, resolusi layar HD atau di atas 300 ppi itu tidak terlalu berasa perbedaannya. Tapi setelah liat langsung, ternyata mata saya yang awam masih bisa merasakan ketajamannya jika dibandingkan Samsung Galaxy S4 dengan resolusi HD dan 441 ppi. Apalagi ditambah faktor kondisi tempat workshop yang tidak terlalu terang membuat layarnya benar-benar terasa terang tapi masih tetap soft dan enak di mata. Dengan ukuran layar sebesar 5.7″, Note 4 juga terasa sangat lega buat browsing dan entertainment. Saya juga dapat info bahwa layar Galaxy Note 4 ini mendapat penghargaan the best display dari Display Mate.

Kamera, kualitas gambar bagus di low light

Front Camera 3.7MP + F1.9/ Selfie (90º), Wide selfie mode (120º), Rear Camera 16M+ Smart OIS/ Fast AF, Live HDR(Rich Tone)

Sepertinya tadi malam Samsung sengaja pilih tempat di Willshire SCBD dengan light yang secukupnya supaya bisa test camera Note 4. Ternyata hasil kameranya bagus dan minim noise, rekan sebelah saya yang menggunakan LG G3 sempat bandingkan hasil foto dengan Note 4 dan terlihat Note 4 hasilnya lebih sharp dan natural. Sayangnya saya tidak sempat copy foto-foto hasil jepretan Note 4. Kalau hasil foto low light saja sudah bagus, untuk di outdoor harusnya juga bagus

Yang paling menarik pada waktu mencoba selfie, sensor heart rate di bawah kamera juga berfungsi sebagai shutter, cukup sentuh sensor tsb dengan jari maka foto langsung di capture, praktis banget terutama dalam posisi mau selfie supaya tidak blur. Ada juga fitur wide selfie untuk foto dengan angle yang lebar, awalnya saya merasa kesulitan mengoperasikan karena tangan harus stabil dan geser kamera ke kanan dan kiri. Tapi setelah coba 3-5x jadi terbiasa. Kualitas wide selfienya cukup terang di kondisi low light, tapi sayangnya noise nya cukup terlihat jelas walaupun masih acceptable.

Performa, snappy dan no lag

Processor Exynoss 1.9GHz Octa Core (1.9GHz Quad + 1.3GHz Quad Core) + 3GB RAM

Selama workshop kemaren saya tidak sempat coba buat gaming untuk test performa secara maksimal, tetapi untuk browsing, multitasking antar app, buka kamera, buka S Note, nulis-nulis menggunakan S Pen, semuanya terasa smooth, snappy dan hampir gak ada lag. Dengan berbagai tugas waktu workshop, performa masih terasa smooth walaupun banyak aplikasi terbuka (biasanya perlu clear beberapa app supaya lebih lancar).

Yang saya paling suka adalah fitur multiwindow untuk membuka beberapa app sekaligus. Dengan layar 5.7″ saya rasa membuka 2 window app bersamaan sudah pas, lebih dari itu terlalu kecil. Cara mengaktifkan multi window juga dibuat mudah oleh Samsung, bisa dari recent app lalu tekan icon laci di app yang mau dijadikan window baru atau swipe dari pojok kanan ke kiri bawah untuk membuat window app yang lagi berjalan menjadi kecil dan bisa buka aplikasi lain lagi tanpa menutup app sebelumnya.

S Pen, lebih sensitif dan banyak fitur-fitur baru

Hampir setiap hari saya nulis di tablet ipad dan sudah merasa sangat nyaman. Di atas kertas sensitifitas S Pen meningkat 2 kali lipat dibandingkan Note 3, setelah menggunakan S Pen buat menulis kaligrafi (salah satu tugas kelompok), ternyata feel-nya enak banget, mirip seperti menulis di kertas, S Pen juga bisa mendeteksi pressure, sangat berguna kalau menulis dengan pilihan tinta pena. Namun menurut saya, menulis di layar 5.7″ masih terlalu kecil, apalagi karena body belakang gak full flat, menulis seperti di kertas dari sisi kiri ke kanan agak kurang nyaman, saya harus pegang Note 4 dengan tangan satunya lagi, supaya tetap stabil dan tidak bergerak.

Buat saya sendiri kelebihan S Pen ada di fitur seperti smart select, yang fungsinya seperti mouse untuk memilih text atau content gambar, yang memudahkan kita untuk share hal-hal yang unik ke temen lewat sosial media atau chat. Jadi tidak perlu repot lagi screenshot atau save image, buka aplikasi Gallery/Photos, lalu crop supaya sesuai. Lalu juga ada fitur Photo Note untuk menjadikan tulisan di papan tulis menjadi format yang bisa di edit di layar.

Fitur lainnya yang menarik dan tidak dicoba adalah battery life dan fast charging. Menurut info katanya Galaxy Note 4 dengan 3220 mah bisa bertahan 2 hari dan charge dari 0% – 50% hanya dalam waktu 30 menit!

Kesimpulan

Jujur awalnya saya tidak tertarik membeli Samsung Galaxy Note 4, tapi setelah merasakan langsung dan mencoba seluruh fitur-fitur utamanya, sekarang malah jadi galau mempertimbangkan untuk ikutan pre order yang sudah dibuka dari 3 Oktober – 19 Oktober. Buat para pengguna Note 3 apalagi Note 2, menurut saya Samsung Galaxy Note 4 ini adalah alasan yang tepat untuk upgrade.

Harganya sekitar 8.5jt-8.7jt tergantung promo bank dan juga bisa dicicil 0%. Selain itu ada banyak bonus battery kit buat para road warrior, voucher, dan content (aplikasi, majalah).Bagi yang penasaran dan tertarik juga untuk melakukan pre order Samsung Galaxy Note 4, silahkan langsung aja ke http://GalaxyLaunchPack.com dan dapatkan unitnya di tanggal 23 Oktober 2014!

 

 

Seluruh foto Samsung Galaxy Note 4 dari om Wiwi member milis Gadtorade

 

 

 

 

 

 

Prediksi yang mengatakan bahwa wearable gadget akan semakin booming di tahun 2014 ternyata benar, terbukti dengan semakin banyak wearable gadget baru yang dirilis di tahun ini, bahkan dua produk yang ditunggu-tunggu juga sudah diumumkan yaitu Moto 360 dan Apple Watch. Saat ini ada dua jenis wearable gadget yang populer, smartwatch yang fungsi utamanya sebagai jam dan menampilkan berbagai notifikasi dari smartphone, lalu fitness tracker dengan desain seperti gelang yang memonitor seluruh aktifitas kita seperti fitness, makan, bahkan tidur. Jadi sebelum memutuskan untuk membeli, kamu harus pastikan dulu mana yang lebih dibutuhkan, saya sendiri lebih membutuhkan smartwatch dibandingkan fitness tracker. Untuk kebutuhan lari dan fitness, saya lebih menyukai kombinasi smartphone + armband dengan aplikasi sport Endomondo dan musik.

Setelah membaca review moto 360 dan fitur-fitur dari Apple watch, akhirnya saya lebih mantap memutuskan untuk membeli smartwatch Pebble Steel. Pebble adalah perusahaan startup asal Amerika yang berhasil mengumpulkan dana 10 juta dollar ketika menggalang dana di Kickstarter untuk menciptakan smartwatch. Pebble saat ini sudah mengeluarkan dua produk, Pebble original yang terbuat dari bahan plastik dan Pebble Steel yang memiliki desain lebih premium dengan bahan steel dan harga yang lebih mahal. Secara overall banyak reviewer yang setuju bahwa Pebble Steel masih menjadi smartwatch terbaik di tahun 2014. Setelah menggunakannya selama dua minggu saya pun setuju dengan pendapat beberapa review di luar, berikut ini adalah fitur-fitur yang menjadi keunggulan Pebble Steel dibandingkan smartwatch lainnya.

Desain Stylish

Sebagai jam tangan, Pebble Steel berukuran standar, tidak terlalu besar tapi juga tidak kecil, sehingga cocok buat hampir kebanyakan oranng. Pebble Steel terlihat seperti jam tangan biasa dan nampak stylish dengan bahan steel dan bentuk curve disisinya. Buat saya yang tangannya tidak terlalu besar, Pebble Steel terlihat lebih pas dan cocok ketika digunakan. Ini sangat berbeda dengan smartwatch seperti Samsung Gear 1 atau 2 yang memiliki ukuran besar dengan desain yang terkesan lebih futuristik. Strapnya ada dua jenis, leather dan steel. Bahan leather lebih nyaman digunakan, sedangkan strap steel terlihat lebih stylish. Soal desain kembali ke selera masing-masing, ada yang suka jam tangan dengan ukuran standar, namun ada juga yang merasa lebih keren menggunakan jam berukuran besar. Selain desain yang elegan, Pebble juga sudah water resistant dan aman dibawa ketika wudhu, cuci tangan, mandi, atau bahkan berenang dan tahan sampai kedalaman 50M. Tapi saya sendiri masih tidak berani mencoba fitur ini 🙂Continue reading

Pertama kali saya mendengar nama Xiaomi adalah ketika membaca berita bahwa Head of Product Android dari Google, Hugo Barra, berlabuh ke perusahaan yang berasal dari China, Xiaomi. Hugo Barra mengemban tugas sebagai Vice President of International untuk melakukan ekspansi ke luar China. Walaupun baru berusia 4 tahun, Xiaomi sudah menjadi no. 1 di negara asalnya mengalahkan Samsung dalam hal penjualan smartphone di Q2 2014. Pada tahun 2013 Xiaomi berhasil menjual sebanyak 18.7 juta handset dengan pendapatan sebesar $5 Miliar atau sekitar Rp 60 triliun (sebagai perbandingan nilai pendapatannya 3x dari perusahaan telekomunikasi XL atau 2.5x dari Indosat di tahun 2013). Di kancah global Xiaomi juga sudah sudah termasuk dalam 5 besar produsen smartphone, dengan market share 5.1% (satu tingkat di atas LG yang berada di posisi no. 6).

Salah satu kunci sukses dari Xiaomi adalah harganya yang affordable tapi memiliki kualitas yang sangat baik dari sisi hardware maupun software. Berikut ilustrasi yang menarik perbandingan harga Xiaomi di tahun 2014 dibanding smartphone vendor lain.

Xiaomi bisa memberikan harga yang sangat spesial karena business modelnya yang hanya menggunakan jalur ecommerce untuk berjualan sehingga bisa mengurangi biaya-biaya yang tidak diperlukan misalnya membuka toko-toko ritel. Selain itu aktivitas marketing Xiaomi juga hanya fokus di social media dengan biaya yang sangat efisien, sekitar 1% dari total pendapatannya, sangat berbeda dengan Samsung yang mengalokasikan sekitar 5.4% dari total pendapatannya. Dalam berjualan via online, Xiaomi sukses membuat hype dan menjadi rebutan banyak orang, seperti di China produk andalan Xiaomi Mi3 terjual 100.000 unit hanya dalam waktu 86 detik, lalu baru-baru ini di India 40.000 Redmi 1S habis dalam waktu 4.2 detik, lalu juga di Singapore Redmi Note terjual 5.000 unit dalam waktu 42 detik.

Redmi 1S, Spesifikasi Wah Harga Murah

Redmi 1S adalah smartphone pertama dari Xiaomi yang resmi masuk di Indonesia. Redmi 1S termasuk salah satu produk dari Xiaomi untuk segmen menengah ke bawah. Namun bukan berarti spesifikasi dan kualitasnya pas-pasan. Redmi 1S dijual dengan harga hanya 1.5 jt, padahal kalau membeli merk lain dengan spesifikasi yang setara harganya bisa sekitar 2.5jt-3.5jt.

Continue reading

Wiko, perusahaan asal Prancis ini bisa dibilang pemain baru di industri smartphone. Walaupun baru berusia 3 tahun, Wiko mampu menempati posisi no 2 di Prancis setelah Samsung, bahkan mengalahkan Apple yang saat ini di posisi no. 3. Produk-produk keluaran Wiko terkenal dengan harganya terjangkau dan memiliki desain yang berkelas serta performa yang tinggi. Salah satu kunci sukses Wiko di negaranya karena menggunakan strategi Design in France, Made in China, dimana tim Wiko membuat spesifikasi desain produk di Prancis lalu mengirimnya ke China untuk diproduksi.
Kebetulan saya mendapatkan review unit salah satu produk flagship dari Wiko, yaitu Wiko Highway. Spesifikasinya tidak tanggung-tanggung, smartphone ini dilengkapi layar 5″ Full HD dengan resolusi 1920 x 1080px, processor MediaTek Octacore terbaru dengan kecepatan 2 Ghz, RAM 2GB, Internal storage 16GB, Kamera belakang 16MP, kamera depan 8MP, lalu juga mendukung Dual Sim GSM-GSM. Wiko Highway akan resmi dijual dalam waktu dekat melalui salah satu distributor handphone besar di Indonesia dengan harga yang “katanya” sangat menarik.

Desain ala iPhone dan Sony Xperia Z

Pertama kali melihat desain Wiko Highway, saya langsung teringat desain minimalis ala iPhone dengan bahan frame aluminium di seluruh sisinya dan bahan glass ala Sony Xperia seri Z di bagian depan dan belakang, hasilnya cukup elegan dan enak dipandang. Kesan premium akan lebih terasa ketika memegang langsung handphone ini, beratnya ringan sekitar 154 gram dan cukup tipis sekitar 7.7mm (perbandingan iPhone 5s sekitar 7.6mm), lebarnya juga hanya 70mm jadi masih bisa terjangkau oleh jempol ke sisi kiri/kanan layar, lalu bentuk sudutnya yang curve membuat nyaman dipegang oleh satu tangan.

 

Continue reading

  • Ingin menampilkan foto dan video yang ada di gadget ke layar TV yang lebih besar?
  • Mau nonton Youtube di layar TV supaya bisa ditonton bareng teman-teman kamu?
  • Gak mau ribet dengan kabel yang harus disambungkan ke gadget untuk menampilkan konten di TV?

EZCast HDMI Dongle, menurut informasi di websitenya bisa mengatasi semua kebutuhan di atas. Sejujurnya pada waktu pertama kali melihat websitenya saya sempat berpikir produk ini “too good to be true” dan sempat skeptis dengan fiturnya yang bisa menampilkan konten secara wireless ke layar TV dari hampir semua jenis gadget seperti Android, iOS, OSX Mac, Windows, dan Windows Phone. Karena rasa penasaran, akhirnya saya memutuskan untuk membeli produk seharga Rp 350rb ini dengan ekspektasi yang biasa saja.

 

Unboxing EZCast HDMI Dongle

Di dalam box EZCast hanya terdapat EZCast Dongle, kabel external WIFI dan USB. Cara pemasangannya cukup sederhana, pertama sambungkan EZCast dongle ke port HDMI di TV, lalu sambungkan kabel USB ke adaptor listrik (adaptor tidak disediakan di paket penjualan). Kabel USB ini juga bisa disambungkan di port USB yang ada di TV, namun karena arus daya USB di setiap TV berbeda-beda, disarankan untuk menyambungkan USB ke adaptor listrik untuk performa yang lebih stabil.

EZCast HDMI Dongle

 

Langkah selanjutnya adalah setup EZCast di gadget. Pertama kita harus install aplikasi EZCast di Play Store atau App Store atau di websitenya EZCast, kemudian ikuti instruksi yang ada di layar TV untuk menyambungkan EZCast ke Jaringan Wifi di rumah (EZCast juga bisa berfungsi tanpa ada wifi).

Kesimpulannya, setelah beberapa hari mencoba EZCast di Android, iOS dan Windows, ternyata produk ini benar-benar di luar ekspektasi awal dan mampu menjalankan seluruh fitur yang dijanjikan! Bagi yang mau melihat langsung demonya, saya sempat membuat video EZCast di platform Android, iOS, dan Windows.

Continue reading