Perlukah Root di Android? Alasan Kenapa Harus Root

 
 
Sebagai pengguna smartphone Android, saya selalu melakukan root setelah membeli. Istilah root di android sering disamakan dengan jailbreak di iPhone/iPad. Pada dasarnya kondisi ini akan memberikan hak akses penuh terhadap sistem operasi, tujuannya memaksimalkan fungsi yang ada di HP. Namun sekarang ini Android di versi 4.4.3 sudah semakin matang fungsinya sehingga semakin sedikit alasan kenapa harus melakukan root. Walaupun begitu, sampai saat ini saya masih melakukan root dan masih merekomendasikan ke teman-teman untuk melakukan root juga. Melakukan root atau jailbreak saat ini sudah sangat gampang, hanya dengan 1-click sudah bisa langsung root, sebagai referensi bisa dilihat di forum XDA Developers atau Kaskus. Berikut ini beberapa alasan dan tweak yang masih saya gunakan sampai sekarang.

Hemat Baterai

Saat ini saya masih setia menggunakan S4 karena memiliki berbagai fitur menarik dan ukurannya yang pas di tangan dan saku. Tapi sayangnya S4 punya satu kelemahan yaitu baterai yang boros. Dengan penggunaan moderate, biasanya hanya bertahan 9-10 jam dengan screen on time 3 jam. Setelah explore beberapa alternatif, akhirnya saya menemukan tiga aplikasi yang mampu membuat baterai menjadi lebih tahan lama,

  • System Tuner, aplikasi serba bisa yang salah satu fiturnya adalah menurunkan kecepatan prosesor. Hal ini tidak mempengaruhi kinerja secara signifikan namun mempengaruhi baterai dan hp menjadi lebih adem.
  • Greenify, membuka banyak aplikasi secara bersamaan akan membuat RAM cepat penuh, hp menjadi lambat, dan tentunya akan berpengaruh ke baterai juga. Greenify bisa membuat aplikasi2 yang kita inginkan masuk ke dalam mode hibernasi jika tidak digunakan. Hasilnya HP menjadi lebih cepat seperti baru, no lag dan juga baterai lebih hemat
  • Intelli3G, sinyal 3G apalagi jika sering tidak stabil membuat baterai cepat boros, Intelli3G ini mampu secara otomatis mengubah ke Edge jika tidak digunakan (sehingga tetap bisa menerima notifikasi namun konsumsi baterai lebih hemat) dan otomatis kembali ke 3G jika diperlukan.

Hasilnya saya bisa mendapatkan kinerja baterai 16-18 jam dengan screen on time 4 jam. Jadi kalau lepas dari charger jam 6, kira kalau sebelum tidur jam 10-11 baterai masih sisa sekitar 10-15%. Penggunaan saya cukup moderate, BBM, Whatsapp, browsing, streaming youtube selama perjalanan kantor sekitar 1 jam, social media mostly twitter, path dan instagram, email kantor, gmail dengan 3 milis aktif sync tiap 2 jam sekali.

 

Install aplikasi di external memory

FItur yang menyebalkan dari Android KitKat adalah keterbatasan aplikasi untuk menyimpan data ke external memory. Begitu pula dengan games yang tidak bisa di install di external memory, padahal sekarang ini games yang kualitas gambarnya bagus bisa berukuran 1-3 GB. Dengan memory internal yg terbatas di 8-32GB, belum lagi dikurangi dengan OS sistem operasi sekitar 5-6 GB, mungkin maksimal kita hanya bisa install 2-3 games (perlu diingat biasanya kita juga menyimpan foto, video, dan dokumen lainnya).

Untuk mengatasi hal ini saya menggunakan Foldermount. Aplikasi ini mampu memindahkan games ke external memory dengan mudah atau lebih spesifik juga mampu mengubah default storage dari aplikasi misalnya Google Music atau Deezer yang biasanya menyimpan lagu yg sudah di download ke kita bisa memindahkan lagu2 yang disync offline ke external memory. Selama saya gunakan foldermount tidak ada pengaruh terhadap performa aplikasi yang disimpan di external memory, main games masih bisa lancar seperti biasanya.

Bermain games dengan Controller

Saya sering menggunakan S4 untuk main games dan menonton film2, hasil download dari torrent ๐Ÿ™‚ di layar TV dengan menggunakan HDMI adaptor yang mampu memutar video framerate 60 fps sehingga hasilnya sangat smooth dan tidak ada lag ketika bermain games. Repotnya karena menggunakan kabel HDMI, hp jadi harus dekat dengan TV dan ini membuat jadi kurang nyaman. Solusi jika tidak mau repot dengan kabel bisa menggunakan samsung allsharecast wireless dongle yang cukup mahal dan akan ada sedikit lag bermain games dibandingkan jika langsung dengan kabel, tapi kalau sekedar browsing atau nonton tidak masalah.

Solusi yang lebih pas buat saya adalah HDMI adaptor dan ditambah bluetooth gamepad controller, saya menggunakan ipega controller yg cukup murah dan bagus. Jadi saya bisa letakkan S4 dekat TV dan navigasi hp melalui gamepad. Namun sayangnya Android belum support bluetooth gamepad controller dengan lengkap, sehingga gamepad tidak bisa digunakan saat di launcher dan hanya games tertentu yang support bluetooth controller, artinya kita tidak bisa navigasi juga di aplikasi lain seperti browser, youtube atau movie player.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, saya menggunakan aplikasi Tincore Keymapper. Fungsinya untuk mengemulasi touch dan soft dan hard key dan melakukan mapping ke tombol2 di gamepad. Hebatnya mapper ini bisa disetup per jenis aplikasi. Misalnya jika di bagian launcher atau aplikasi non games, saya melakukan mapping dimana D-Pad berfungsi sebagai kursor mouse, tombol X: touch/click, tombol Y: back button, tombol A: home button, dsb. Atau ketika main di games tertentu, juga bisa diset D-PAD untuk directional, tombol2 lainnya di map sesuai dengan yang ada di layar krn setiap games berbeda. Konfigurasi mapping ini hanya di saat awal, kalau sudah terbiasa tidak lebih dari 3 menit, setelah itu tincore secara otomatis akan detect mappingnya sesuai dengan aplikasi yang sedang berjalan.

Demikian beberapa alasan mengapa saya melakukan root dan tweak yang digunakan. Semoga bermanfaat dan selamat ngoprek ๐Ÿ™‚

 

 

1 comment

Leave a Reply