Mengukur Kinerja Perusahaan

 

Dalam menjalankan bisnis atau memimpin sebuah perusahaan, setiap leader harus mampu mengukur kinerja perusahaan sebagai alat bantu navigasi atau indikator supaya bisa tumbuh semakin besar dan kompetitif. Indikator kinerja perusahaan biasanya disebut dengan Key Performance Indicator (KPI) dan setiap orang dalam perusahaan mulai dari level board management sampai staff mempunyai accountability untuk mencapai KPI tsb. Hal-hal yang diukur bisa berbagai jenis mulai dari jumlah pendapatan, jumlah unit terjual, service level, cost of service, conversion rate, productivity rate, on time delivery, collection rate, net profit dsb.

Untuk mengukur bagus atau tidaknya pencapaian dari masing-masing KPI tsb, kita harus mampu membandingkanya berdasarkan tiga hal berikut,

  1. Growth dibandingkan tahun lalu. Indikator yang paling mudah dihitung yaitu dengan membandingkan kinerja dari tahun lalu. Misalnya revenue naik dari 1M menjadi 1.2M atau tumbuh sebesar 20% atau gross profit naik dari 300jt ke 400jt.
  2. Pencapaian terhadap budget. Biasanya pada akhir tahun setiap perusahaan selalu melakukan budget planning untuk tahun depan, misalnya di budget ditetapkan bahwa revenue 1.4M, COGS (cost of goods sold) 1M sehingga gross profit 400juta. Dari contoh sebelumnya walaupun revenue growth sebesar 20% tapi jika dibandingkan dengan budget, hanya mencapai 86%. Dalam kondisi seperti ini perusahaan diharapkan mampu menekan COGSnya agar tetap mendapat gross profit yang sama. Jika cost tidak ditahan maka dengan revenue 1.2M dan COGS 1M, gross profit yang didapat menjadi hanya 200jt. Padahal di contoh sebelumnya perusahaan ingin tumbuh gross profitnya dari 300jt tahun lalu menjadi 400jt. Saya pernah mengalami kondisi ini, dimana saat itu revenue tidak sesuai yang diharapkan sehingga salah satu anggaran yang ditahan adalah rekrutmen dan training. CEO saya saat itu pernah bilang “revenue is ambition but profit is commitment”, dia selalu punya ambisi untuk mencapai revenue sebesar mungkin namun juga tetap harus aware dengan cost yang diakibatkan dari ambisi tsb.
  3. Growth dibandingkan industri atau kompetitor. Penting untuk kita melihat bagaimana kinerja dari kompetitor atau industrinya secara keseluruhan, datanya bisa didapat dari berbagai sumber mulai dari yang formal seperti Nielsen (untuk FMCG, retail), Media Partner Asia (untuk industri media) atau informal berupa bocoran dari para salesman di lapangan. Jadi walaupun perusahaan mencapai revenue 1.3M atau growth 30% dan mencapai 100% dari budget, tapi ternyata industri mengalami pertumbuhan rata-rata 35%. Artinya perusahaan tumbuh lebih lambat dibandingkan yang lain dan membuat market share kita tergerus oleh kompetitor lainnya.

Jadi bagaimana dengan kinerja perusahaan anda, apakah sudah memenuhi 3 kriteria di atas?

 

 

Leave a Reply